superzupper:

image

picture

Kupu-kupu itu luar biasa ya.

Saat ia menjadi ulat, orang-orang jijik melihatnya. pada ramai-ramai ingin mengenyahkannya. 

Saat ia menjadi kepompong, orang-orang seringkali tak peduli. dianggapnya kotoran yang menempel pada daun, dipotonglah daun dimana ia menggantung.

Tak peduli bahwa si kepompong tidak makan dalam waktu yang lama

Namun, orang-orang bak tersihir oleh kecantikan si jelita yang tiba-tiba keluar dari kepompong, tersihir karena keanggunannya menari kesana kemari.

Mengapa ?


REBLOG POST

superzupper:

auntivietnanti:

…..Wal Aa’fiina aninnaas…. (QS 3:134)


How many times should we forgive a person? … As many times as you would like Allah to forgive you…

superzupper:

auntivietnanti:

…..Wal Aa’fiina aninnaas…. (QS 3:134)

How many times should we forgive a person? … As many times as you would like Allah to forgive you…

REBLOG POST

superzupper:

Perempuan sepertiku tak banyak.

Jangan tertipu oleh angka statistic yang mengatakan, perbandingan lelaki dan perempuan melebihi 1 : 4. Ada banyak kaum hawa di luar sana, tetapi percayalah, yang sepertiku hanya terbatas jumlahnya. Kalau kau bertanya-tanya, seperti apakah aku hingga sedemikian yakinnya, silakan renungkan.

Aku dan Dirimu

            Antara aku dan dirimu dibatasi oleh rasa malu dan cinta.

            Aku mencintai Robb ku melebihi segalanya, setingkat di bawahnya adalah lelaki paling mulia bernama Muhammad ibn Abdillah Saw. Setingkat di bawahnya adalah para shahabat, para salafus sholih. Setingkat di bawahnya lagi adalah para ulama dan ustadz di zaman ini yang selalu menyiangi taman hatiku dengan nasihat mereka. Layer terbawahnya adalah dirimu.           

            Jangan khawatir, aku selalu menyisihkan waktu untuk mendoakanmu menjadi pemimpin sejati, meski porsimu hanya kecil di hatiku.

            Cintaku padamu, meski tak mutlak, tetap utuh dan sempurna. Sebab ia disempurnakan oleh rasa malu. Malu pada Robb ku jika aku masih meminta sesuatu pada sesuatu selain dariNya. Malu pada Nabiku yang dalam pikirannya hanya terpikir ummat, ummat, ummat; tak tersedia secuil hasrat cinta picisan yang mungkin, sesekali masih menghampiri makhluk sepertiku.

Aku dan Ilmu

            Untuk lebih memahami dunia dengan segala permasalahannya, kapal besar yang akan membawa kita menuju negeri abadi, aku membutuhkan ilmu pengetahuan. Karenanya jangan heran, bila sebagian besar waktuku selain terisi oleh ibadah mahdhoh dan nawafil; kupergunakan untuk menimba ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang berada di majelis para sholihin atau di bangku akademis.

            Jika, kemudian aku tak menemukanmu, pada akhirnya ilmu pengetahuan kukejar demi mempersiapkan sumbangsihku yang lebih besar bagi umat. Jangan salah berpikir mengapa aku sibuk mengejar ilmu, strata satu, dua, tiga hingga ke negeri seberang. Sebab aku tak mau terlalu resah, sibuk memikirkanmu. Waktuku terlalu berharga untuk menangisimu. Ummat masih menanti muslimah sepertiku, berkiprah menyelesaikan masalah-masalah yang semakin berkembang dan kompleks dari waktu ke waktu.

Aku dan Dakwah

            Aku masih belum selevel  bunda Aisyah ra yang menghafal ribuan hadits. Belum selevel  Jahanara, putri Shah Jahan yang menelusuri jalan tasawuf usai bertikai dengan Aurangzeb, penguasa dinasti Mughal. Belum setara dengan Tawakkul Karman, peraih nobel perdamaian. Belum setara dengan Zaynab Al Ghazali atau Lathifah as Shuli, perempuan terhormat dalam pergerakan di Mesir.

            Tapi benakku dipenuhi bagaimana mengentaskan muslimah kampus agar lebih memahami Islam secara utuh, bagaimana mengentaskan ibu-ibu dari keterpurukan ekonomi, bagaimana agar anak dan remaja tidak tumbuh di jalanan. Bagaimana agar kita punya kontribusi pada kehidupan bangsa dan negara.

            Dirimu, berada pada layer terakhir di benakku. Tentu, terselip keinginan untuk meraih tanganmu, bersama menapaki jalan yang penuh onak duri tetapi juga dipenuhi harapan dan kesempatan luas terbentang.

Aku dan Waktu

            Aku tahu, hidup dibatasi waktu.

            Setiap tahapan usia memiliki tugasnya masing-masing.

            Tapi aku tak mau dibatasi oleh budaya yang mengatakan bahwa usia lah yang memastikan perempuan harus memasuki usia pernikahan. Tak ada yang mampu memaksakan usia. Siapa dapat memastikan aku memilikimu di usia 20, 23, 25, 30 atau 38 bahkan 40 nanti?

            Aku tak memusuhi waktu, sebab, ia adalah salah satu sumpah Tuhan dalam al Ashr. Aku, bersahabat dengan waktu. Tak akan kuhitung tahun, bulan, pekan, hari apalagi detik hanya untuk memuja namamu dan menantimu mengetuk pintu rumah orangtuaku.

            Kau ada di sini, dalam hatiku, tetapi kusimpan rapi dan kulipat baik-baik dengan lapisan cinta dan malu. Aku tak akan memaksakan waktuku padamu, padaku, atau pada siapapun sebab setiap kejadian memiliki dimensinya sendiri-sendiri.             Waktu yang kumiliki akan kuisi dengan sebaik-baik bekal, bagai backpacker yang mempersiapkan isi ranselnya dengan perkakas yang penting dan tepat. Lebih baik kuiisi waktu dengan menghafal Quran, membaca buku-buku, mengkaji ulang catatan pengajianku , berburu ladang dakwah baru, berbakti pada orangtuau, mengasuh adik-adikku dan bersilaturrahmi dengan karib kerabat; dan tentu saja, mengisi dahaga akan ilmu.

I am and Somewhere Out There

            Aku, tak sama dengan perempuan yang kau temui di jalan-jalan. Yang menghabiskan waktu di depan cermin dengan mematut diri, berhitung, klinik kecantikan mana lagi yang bisa dikunjungi. Aku, tak sama dengan perempuan yang sibuk berhitung, kelak suamiku berpenghasilan berapa sehingga mengajakku keliling Eropa?

            Aku tak ada di cafe, when night is still young.

            Aku tak ada di mall ketika di akhir pekan, berburu tas Hermes dan sepatu atau discount baju.

            Aku tak selalu ada di dunia maya, memandangi wajah kharismatikmu  di foto profil , yang sering melempar nasehat berharga dan banyak gadis terhenyak dibuatnya.

            Kalau kau mau mencariku, jasadku berada di belantara ladang-ladang dakwah. Di masjid, di perpustakaan, di kampus, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman kampus; bersama kaum perempuan dan anak-anak, berbagi ilmu. Kalau kau mencariku, ruhku berada di outer space, ketika sepertiga malam. Mungkin kau bisa menemuiku di sana, saat kita tengah bermunajat bersama – meski tempat berbeda.

            Ketika gelombang elektromagentik cinta kita beradu dalam aura makrokosmos yang sama.

            Aku, berbeda dengan perempuan yang biasa kau temui.

            Maharku mungkin murah.

            Tetapi nilaiku, tak setara dengan emas yang kau bayarkan, insyaAllah.

            Jadi, kuharap kau mengerti.

            Kalau aku tak akan berkeliaran mencarimu, mengejar-ngejarmu.

            Semakin lama kau menunda waktu, memperpanjang list yang kau gunakan untuk meminang bidadarimu : yang cantik, yang mapan, berkarir, lulus dengan pendidikan strata tertentu, dari kalangan terhormat.

            Aku, biasa-biasa saja. Kecantikan istimewaku pada busana rapi dan kerudung yang kukenakan; pada lisan yang  kuusahakan bertutur dengan isi yang bernas. Kedua orangtuaku hanya orang biasa, dan aku adalah tonggak keluarga. Aku mungkin tak akan membuat heartbeat mu berdetak ribuan kali lebih cepat.

            Aku, mungkin hanya menawarkan sedikit. Untuk menghidupkan malammu. Untuk menjaga kehormatan, dunia dan akhiratmu. Pemikiran dan senyumku, semoga kelak bisa menaungi hatimu yang resah dan kelelahan. Jika, kau masih memimpikan daftar penantian akan bidadarimu, silakan. Mungkin namaku tak masuk disitu.

Meski waktu bersanding kegelisahan dan lelah; semakin aku tangguh dan kuat dalam penantian serta munajat kepadaNya.

Aku yakin, Ia akan memilihkan seseorang yang tepat dan baik untukku, mungkin itu bukan dirimu. Aku justru mengkhawatirkan dirimu, yang terlalu lama menunda dan menanti, membuat daftar yang semakin panjang; maka kau tak akan mendapatkan perempuan sepertiku. Sebab semakin lama, bukan diin atau dakwah yang menjadi pertimbanganmu. Dunia dan kecantikan, yang kau sebut-sebut diperbolehkan oleh baginda Rasul Saw, membuatmu semakin pemilih.

Aku punya sebuah kisah yang mungkin layak disimak utntuk pemuda sepertimu.

**************

Read More

REBLOG POST

"Menjadi baik karena ingin dipasangkan dengan yang baik mungkin tak salah, tapi menjadi baik karena Allah ingin kita menjadi baik itu indah."

Achmad Lutfi 

:)

REBLOG POST

superzupper:

copas dari grup JMF :)


Jomblo itu bukan tak laku (emang dagangan…? :D)

Pacaran pun bukan ukuran laku tidaknya dirimu
Jomblo bukan tak ada yang minat
Bukan juga terabaikan
Bukan juga sok suci dan munafik tak membutuhkan kasih sayang lawan jenis
Jomblo (karena Allah) itu pilihan yang…

REBLOG POST
REBLOG POST

REBLOG POST

justlikeheaven1996:

Photography, black and white, depressing.

justlikeheaven1996:

Photography, black and white, depressing.

REBLOG POST

buck-barnes:

i wish there was a non-assholeish way to say “our friendship has run its course, you make me uncomfortable with your feelings and a lot of shit you do pisses me off bye”

REBLOG POST

Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat digilas keimanan.

Keyakinan hanya tinggal pikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tak berakal.

Ada orang berakal tapi tak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai.

Ada yang khusuk namun sibuk dalam…

REBLOG POST

jurnalramadhan:

Romantis adalah ketika kata tak perlu terucap, hanya mata saling tatap, dan kita tahu cinta menggelora bagai samudra.

Romantis adalah Ali yang dimarahi Fatimah, terkunci tak bisa masuk rumah saat pulang. Lalu tidur di serambi masjid berlumur debu.

Romantis adalah seperti Khadijah yang tak bertanya melihat suaminya pulang gemetaran, takut, menggigil. Hanya memahami, hanya menyelimuti.

Romantis adalah ada dua pilihan bertemu cinta: jatuh dan bangun. Padamu kupilih yang kedua, agar cinta jadi istana, tinggi gapai surga.

Romantis adalah “Sebelum menikah denganmu, aku pernah mencintai seseorang,” kata Fatimah. “Siapa?” tanya Ali. “Engkau,” jawab Fatimah.

Romantis adalah saat Muhammad Saw dijemput kematian, dalam rintihan cinta paling tulus ia berucap, “Umatku, umatku, umatku…”

(Salim A. Fillah dalam Menyimak Kicau Merajut Makna)

REBLOG POST

"Imam Al Bukhari dalam Kitab Shahihnya no. 6412 meriwayatkan bahwa Rosulallah bersabda : Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memasukkan orang tersebut pada salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat mengatupkan sayapnya karena ridha kepada seluruh penuntut ilmu. Penghuni langit dan bumi, sampai ikan sekalipun yang ada di dalam air memohonkan ampun untuk seorang alim. Keutamaan seorang alim dibandingkan seorang ahli ibadah seperti keutamaan cahaya bulan purnama dibandingkan cahaya bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, namun mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut sungguh ia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan tersebut"
(via
superzupper)
REBLOG POST

"Sendiri itu, adalah ketika merasa lebih banyak tahu dari orang lain. Dan itulah sebuah jebakan. Sebab sesungguhnya apa yang kita yakini, belum tentu sebuah pengetahuan yang sampai pada taraf ilmu.

Sendiri itu, ketika orang lain menyangka kita bisa, padahal kenyataannya kita tidaklah demikian.

Sendiri itu, pada saat orang lain mengatakan kita cerdas, padahal kita belum terlalu mengerti apa-apa. Disana tentu sudah pasti ada jebakan, yang bakal menyeret kita pada kepercayaan diri yang tak memberi rasa aman."
Sultan Hadi & Ahmad Zairofi, Tarbawi Ed.284 (via
annisaadejanira)
REBLOG POST

Aku tau … berhijab itu tidaklah mudah, ingat ya berhijab … dengan sempurna .


Biarkan aku berkata ini,dan katakan bahwa kau mengerti nak.

Dunia memang nampak lebih indah,

tapi surga lebih indah.


Mengerti?


kalau kau mengerti, genggamlah itu terlebih dahulu.


Pujian,…

Hijab :’

REBLOG POST

"Menjadi baik karena ingin dipasangkan dengan yang baik mungkin tak salah, tapi menjadi baik karena Allah ingin kita menjadi baik itu indah."

Achmad Lutfi 

:)

REBLOG POST

Sweet Dreamer by Prettiestinpink. Powered by Tumblr.